33 TAHUN EKSIS, STIK-P DIHARAPKAN TERUS BERI KONTRIBUSI BAGI NEGERI



MEDAN - Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi “Pembangunan” (STIK-P) Medan, Dr H Sakhyan Asmara MSP, mengakui saat ini perkembangan perguruan tinggi dengan berbagai kelebihannya begitu pesat. Apalagi peraturan baru menyamakan status Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

“Yang membedakannya adalah akreditasinya. Ada PTS yang akreditasinya lebih tinggi dari PTN, demikian sebaliknya. Ditambah lagi evaluasi badan pemerintah maupun masyarakat yang menyusun ranking Perguruan Tinggi. Masing-masing menetapkan ranking berdasarkan ukuran yang mereka tetapkan. Semua itu jadi referensi posisi suatu perguruan tinggi,” kata mantan Sesmenpora ini, Senin (18/5).

Tentu hal ini juga, kata Sakhyan, dilihat oleh pasar perguruan tinggi, yakni calon mahasiswa. Disebutkan, calon mahasiswa melihat prestasi dan reputasi suatu perguruan tinggi swasta, sedangkan perguruan tinggi negeri tetap jadi pilihan utama. Selain uang SPP relatif lebih murah dibanding PTS, pengajar PTN biasanya lebih lengkap dalam jumlah maupun kualifikasinya.

“Itulah sebabnya pendaftaran di PTS pada umumnya dilakukan setelah proses penerimaan di PTN selesai. Meski tidak dapat dipungkiri, ada PTS yang sudah membuka pendaftaran sebelum penerimaan PTN selesai. Biasanya calon mahasiswa melihat PTS dituju telah sesuai minat dan harapannya untuk masa depan,” ujar Sakhyan.



Begitu juga terdapat beberapa perguruan tinggi yang membuka program studi ilmu Komunikasi. Namun, satu-satunya sekolah tinggi di Sumatera Utara yang membuka prodi ilmu komunikasi adalah STIK-P Medan yang didirikan oleh tokoh pers nasional, (almh) Bunda Hj Ani Idrus.

“Prodi Ilmu Komunikasi di perguruan tinggi lainnya berada di dalam fakultas yang mengasuh beberapa program studi. Inilah kelebihan STIK-P yang hanya mengasuh satu program studi yakni ilmu komunikasi, sehingga semua sumber daya serta program kegiatan akademis dan kemahasiswaan diarahkan kepada peningkatan kemampuan di bidang tersebut,” tegas dosen USU ini juga.

Dengan demikian, tambah Sakhyan, maka praktik-praktik komunikasi lebih ditonjolkan dalam proses pembelajaran di STIK-P. Sasarannya adalah mahasiswa memiliki pengetahuan teoritis dan kemampuan praktis di bidang komunikasi. Bahkan beberapa mahasiswa di antaranya, sudah melakukan aktivitas kerja di bidang komunikasi meski belum selesai kuliah.

“Ini juga salah satu kiat STIK-P tetap mampu bersaing dengan perguruan tinggi lain yang mengasuh Prodi Ilmu Komunikasi di Sumut. Dengan metode pembelajaran seperti itu, kami mengarahkan mahasiswa cepat memiliki kemampuan praktis di bidang komunikasi dan itu menjadi kelebihan kampus ini,” tutur Sakhyan yang juga bakal calon Wali Kota Medan ini.

Di usia 33 tahun ini dan sebagaimana harapan almh Bunda Hj Ani Idrus, kiranya STIK-P tetap bisa memainkan perannya sebagai salah satu perguruan tinggi swasta yang berkontribusi kepada bangsa, negara, dan masyarakat berupa sarjana yang memiliki keahlian dan kemampuan praktis di bidang komunikasi.

“Harapan saya juga, mahasiswa terus berkiprah lewat kegiatan pengabdian pada masyarakat untuk memberi pencerahan dan pemberdayaan di bidang komunikasi serta meningkatkan kualitas dirinya menghadapi kehidupan nyata yang sangat kompetitif dan multidimensional,” tutupnya. (arianda)  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *