STIK-P SIAP ADAPTASI KEBIASAAN BARU

SEPERTI diketahui bersama bila saat ini Indonesia mencoba mulai kepada tahap pemulihan atau disebut New Normal (Adaptasi Kebiasaan Baru) di tengah masifnya pandemi Covid-19. Melalui tatanan baru ini, diharapkan masyarakat menjaga produktivitas hidup lebih baik dibanding sebelumnya.

Tentunya diharapkan dengan Adaptasi Kebiasaan Baru ini, masyarakat bisa lebih menjaga tatanan hidup sehat dan membudayakan pola hidup bersih, sehingga dapat beradaptasi dengan baik.

Beberapa kampus di Indonesia juga sudah mulai menyiapkan penyelenggaraan Adaptasi Kebiasaan Baru pada tahun ajaran baru nanti. Harus diakui kunci keberhasilan penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru pada perkuliahan adalah kepatuhan masyarakat kampus dan sarana prasarana kebersihan yang disediakan.

Terkait hal ini, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi “Pembangunan” (STIK-P) Medan Dr H Sakhyan Asmara MSP mengatakan Adaptasi Kebiasaan Baru adalah langkah taktis dalam transisi dari kondisi darurat wabah Covid-19 ke kondisi baru sesuai pedoman yang telah dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan.

“New normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru penting bagi kehidupan kampus, sebab bila kita berlarut-larut berada di rumah, maka kegiatan belajar mengajar di kampus tidak akan pernah bisa maksimal,” kata Sakhyan, Jumat (17/7).

Menurut Sakhyan, penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru dengan melonggarkan berbagai aktivitas masyarakat perlu kewaspadaan. Apalagi Kapolri sudah mencabut larangan berkerumun, maka kemungkinan terjadinya interaksi dalam jarak dekat tidak bisa dihindari.

Kampus, kata Sakhyan, adalah pusat aktivitas kemahasiswaan. Hingga saat ini Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan belum mengizinkan kegiatan perkuliahan di kampus. Semuanya masih dilakukan secara virtual. Akan tetapi, mahasiswa tampaknya mulai muncul karena rindu suasana kampus, bertemu teman dan berdiskusi dalam jumlah yang terbatas.

“Tentu kondisi itu tidak bisa kita cegah. Apa yang perlu dilakukan sebagai penanggung jawab kampus adalah menyiapkan fasilitas protokol kesehatan yang mencukupi. Misalnya menyiapkan alat pencuci tangan, mewajibkan mahasiswa dan pegawai disiplin mengenakan masker serta jaga kebersihan,” terangnya.



STIK-P sendiri, sebut Sakhyan, sudah melengkapi kebutuhan tersebut. Bila ada pertemuan penting di kampus, tetap dilakukan dengan prinsip physical distancing dan wajib mengenakan masker.

“Di depan tiap ruangan telah ditempelkan pemberitahuan wajib masker. Jarak tempat duduk juga sudah diatur sedemikian rupa, sehingga satu sama lain minimal berjarak 1 meter. Pegawai juga diberlakukan masuk kantor secara bergiliran,” tambahnya.

Mahasiswa kampus yang memiliki konsentrasi ilmu jurnalistik, public relations, dan broadcasting ini pun menyambut Adaptasi Kebiasaan Baru. Pasalnya, mayoritas mahasiswa sudah bosan belajar via daring dari rumah.

“Penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru terkhusus buat mahasiswa cukup membantu, karena kami dapat semangat baru setelah beberapa bulan kuliah daring di rumah. Memang ada beberapa mata kuliah yang sulit diterapkan dengan online, kayak praktikum gitu. Namun, kami pun akan mengutamakan protokol kesehatan saat kuliah nanti,” kata Gabriella Sri Rizky, mahasiswa jurnalistik semester V.

“Kalau bagi saya, kembali kuliah di kampus secara bertahap bagus. Karena kami sudah bisa bertatap muka dengan dosen dan lebih mudah menyerap materi ajar. Kuliah daring lebih banyak kendali, belum lagi soal kuota dan jaringan,” sebut Dilla Syafitri, mahasiswa STIK-P lainnya. *Arianda Tanjung  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *