Akonak STIK-P Gelar Pelatihan Citizen Journalism

Puluhan-Mahasiswa-STIKP-tengah-mengikuti-pelatihan-Citizen-Jurnalism

Puluhan Mahasiswa STIKP tengah mengikuti pelatihan Citizen Jurnalism, di kampus STIKP Jalan Sisingamangaraja nomor 84, Sabtu (13/2) (WOL Photo/Muhammad Rizki)

MEDAN, WOL – Era zaman digital sudah memasuki masanya. Perkembangan teknologi semakin dibutuhkan masyarakat, baik mencari informasi ataupun untuk mengabadikan moment tertentu dengan fasilitas gadget yang dimiliki..

Saat ini, di masyarakat sedang populer istilah Citizen Journalism atau Jurnalis Warga. Di mana masyarakat bisa berkontribusi untuk menghasilkan produk jurnalisme, terutama pada bidang informasi

Pembicara dalam Pelatihan Citizen Journalism Bersama AKONAK STIK-P, Romi David, mengatakan wartawan atau pekerja pers menganggap diri mereka sebagai media komunikasi publik. Bahkan disebut sebagai pilar keempat demokrasi. Namun dalam praktiknya, media massa terjebak pada kungkungan institusionalisasi suatu lembaga.

“Maksudnya, mereka telah menjelma menjadi institusi yang mandiri dari publik yang melahirkannya. Jika di masa lalu media massa menjadi milik wartawannya, kini bahkan media massa menjadi milik para pemodal. Jika pemodal memiliki kepentingan dengan kekuasaan, maka pers tidak lagi menjadi kekuatan masyarakat dan gagal menjadi pilar keempat demokrasi. Pers tidak lagi menjadi pembela masyarakat, justru menjadi kekuatan yang bisa membahayakan masyarakat,” ucap jurnalis televisi di hadapan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi “Pembangunan” (STIK-P), Jalan SM Raja Medan, Sabtu (13/2).

Lebih lanjut, Romi menjelaskan rasa ketidakpercayaan masyarakat terhadap media, indikator munculnya Citizen Journalism. Citizen Journalism adalah istilah yang menggambarkan betapa kegiatan pemberitaan beralih ke tangan orang biasa. Dan efeknya pun lebih spontan.

“Citizen Journalism berkembang seiring kemunculan internet di muka bumi. Lahirnya mailing list dan blogs melahirkan banyak citizen journalism. Bill Gates meramalkan digitalisasi dalam bidang komunikasi dan informasi pada tahun 1990, akan mematikan surat kabar,” sambung Romi.

“Kehadiran situs-situs berita (online) dikhawatirkan bisa menjadi ancaman seluruh media massa konvensional, seperti surat kabar, radio maupun televisi. Konon diramalkan pada tahun 2030 nanti, surat kabar akan hilang dari muka bumi,” pungkasnya.

Mahasiswa STIK-P, Kartik, mengatakan sebagai mahasiswa semester II, ilmu yang disampaikan pada seminar ini sangat menarik. Karena, selama ini dirinya hanya mengetahui produk Citizen Journalism di salah satu media televisi. Sementara untuk proses maupun teknik pengambilan gambarnya tidak dijelaskan.

“Ilmu ini sangat baru sama aku, bang. Senang sekali mengikuti pelatihan ini. Karena belum tentu di dapat mahasiswa lainnya ataupun digelar di kampus lain,” ucapnya yang bertekad menjadi jurnalis tersebut.

Ketua Panitia, Muhammad Rizki SIKom, mengungkapkan bahwa profesi jurnalis saat ini tengah digandrungi anak-anak muda. Sebagai kampus ilmu komunikasi, STIK-P banyak melahirkan jurnalis andal di media massa yang ada di Kota Medan.

“Dengan memanfaatkan teknologi, kita mau merangsang mahasiswa di STIK-P untuk memanfaatkan kecanggihan teknologi, khususnya smartphone yang mereka miliki. Selain mendapatkan ilmu tambahan di bidang Jurnalistik, mahasiswa juga dapat menambah uang saku mereka, jika video yang dihasilkan dari jurnalisme warga ditayangkan di salah satu media televisi nasional,” tutup Rizki.(wol/mrz/data1)

Editor: SASTROY BANGUN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*