KETUA STIK-P DUKUNG KEBIJAKAN MENRISTEKDIKTI

SAKHYAN-UTAMAWOL Photo

MEDANWOL – Munculnya keberpihakan Menristekdikti, Muhammad Nasir, terhadap perguruan tinggi swasta dalam perekrutan dosen berlatarbelakang S1 mendapat dukungan dari Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi “Pembangunan” (STIK-P) Medan, Dr H Sakhyan Asmara MSP. Menurutnya, selama ini menjadi permasalahan di perguruan tinggi khususnya di STIK-P dalam merekrut tenaga pengajar (dosen, red) diwajibkan memiliki predikat S2. Sementara untuk ilmu komunikasi lebih banyak ilmu praktis applied (siap pakai, red) seperti ilmu periklanan, fotografi, teknik menulis dan mencari berita (TMMB), serta lain-lain yang tidak mempunyai pendidikan S2. Teruntuk ilmu komunikasi, kebanyakan ilmu tersebut didapat dari luar proses pendidikan. Contohnya khursus, pengalaman dan belajar sendiri karena memang kemampuan praktis yang dimiliki setiap orang. Sebab ilmu komunikasi sangat kental dengan unsur appliednya walaupun ada beberapa pure science (murni ilmu pengetahuan, red) yang terdapat di dalamnya seperti filsafat, sosiologi, dan sebagainya. “Kalau untuk ilmu komunikasi sangat pas. Kita sangat berterima kasih yang selama ini menjadi penghambat kita dan terformalistik akibat adanya kebijakan harus S2. Nah, sementara seperti periklanan, fotografi, TMMB dan lain-lain tidak ada sekolah Magisternya (S2). Walaupun di dalam ilmu komunikasi ada beberapa ilmu pengetahuan murni seperti filsafat, sosiologi dan lainnya. Tapi kan, lebih banyak aplikasinya yang didapat bisa dari luar proses pendidikan S1, dari khursus misalnya. Dari pengalaman dan belajar sendiri. Itulah kemampuan praktis yang dimiliki oleh setiap orang,” ungkapnya kepada Waspada Online, Kamis (31/8). Mantan staf Kemenpora ini juga menilai, dengan adanya kebijakan ini bisa membuat ikatan formal sehingga mampu meningkatkan kualitas lulusan, dengan mengajak praktisi yang selama ini hanya memilki predikat S1 untuk mentrasnfer ilmu pengetahuan mereka namun terhambat. Lebih lanjut Sakhyan menambahkan, ilmu yang ada pada Perguruan Tinggi Ilmu Komunikasi tidak hanya sebuah teori. Hal ini dikarenakan seperti teknik mencari dan menulis berita tingkat ke dalam, keilmuannya bukan di dalam kelas melainkan di luar kelas (praktik lapangan, red). “Nah, dengan ada kebijakan yang baru inikan, kita bisa buat ikatan formal sehingga kualitas lulusan itu bisa lebih ditingkatkan lagi. Contonya dia sudah punya kemampuan menulis dan mencari berita yang berpengalaman, sudah lama di lapangan tapi dia gak ada S2-nya dan dia diberikan rekomendasi untuk bisa mentransfer ilmu pengetahuannya. Dengan kebijakan ini dia bisa mengajar, dalam arti dia sudah profesional (ahli dibidangnnya, red). Karena ilmu yang selama ini diaplikasikannya di luar,” terangnya. Sakhyan juga menyebutkan dengan kebijakan ini, berharap sumbatan yang terjadi selama ini bisa berjalan dengan lancar apalagi pada Perguruan Tinggi Ilmu Komunikasi yang jauh lebih banyak ilmu aplikasi dari pada teori. “Yang menjadi sumbatan itu tadi. Maka dengan kebijakan ini, sumbatan itu diperbaiki agar berjalan untuk meningkatkan kualitas lulusan. Karena kehebatan seseorang itu semata-mata tidak diukur dari ijazahnya. Tapi sejauh mana keterbukaan dia dengan lingkungan. Jadi selaku Ketua STIK-P, saya menyambut baik karena kebijakan yang sangat tepat. Apabila dilihat dari roh keilmuan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi itu yang menjaga keseimbangan teoritis dengan praktis,” tukasnya.(wol/mrz/iam) Editor: SASTROY BANGUN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*