PETTY: SOFT NEWS PENTING DI MASA PANDEMI COVID-19

MEDAN, Waspada.co.id - Media harus menjadi mata dan telinga bagi masyarakat serta itu alasan media dibilang sebagai kekuatan keempat. Apalagi di era saat ini, media harus tahu arah dan gaya penulisan dalam penyajian berita.

“Karena media sendiri memiliki gaya penulisannya masing-masing. Ada yang straight news, ada soft news atau feature. Saat ini saya bersama media yang saya pimpin (Majalah Femina) lebih kepada soft news,” kata Pemimpin Redaksi Majalah Femina, Petty S Fatimah MSi, dalam Webinar Komunikasi 01 “Strategi Liputan Soft News di Tengah Pandemi Covid-19” yang digelar Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi “Pembangunan” (STIK-P) Medan, Sabtu (13/6).

“Ketika menyadari media harus menjadi mata dan telinga bagi masyarakat, kita harus tahu siapa yang diservis atau konsumennya. Kalau sudah tahu, maka media tersebut akan lebih maksimal,” sebut Petty menambahkan media tidak boleh lupa fungsi pers memberi informasi, edukasi, dan hiburan.

Tak hanya itu, kata Petty, beberapa waktu lalu Majalah Femina juga survei ‘Corona dan Kehidupan Saya’. Hasil didapat ternyata media massa dan media sosial memiliki presentase sama sebagai sumber informasi masyarakat. Di sisi lain, WhatsApp grup memiliki persentase cukup kecil. Dengan kata lain, media massa diminta lebih aktif di media sosial.

“Intinya, soft news saat ini dinilai penting untuk masa-masa genting pandemi Covid-19 seperti sekarang. Di masa genting ini, orang tidak hanya sekadar perlu informasi cepat, tapi juga informasi mendalam,” tutupnya.

Ketua Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Sumut, Lia Anggia Nasution SSos MIKom, menjelaskan masyarakat butuh pembaruan informasi yang akurat dan edukatif di masa pandemi Covid-19 ini.

“Namun masyarakat juga membutuhkan narasi ringan yang manusiawi, tidak berat atau lebih luwes dan juga menghibur atau menyentuh perasaan di tengah gempuran straight news yang menggambarkan peristiwa secara lugas terkait Covid-19,” katanya.

Sementara itu, tantangan jurnalis di masa pandemi di antaranya dilematis, yakni harus melakukan peliputan yang baik di saat bersamaan melindungi diri sendiri dan orang lain yang rentan terpapar virus. Belum lagi sulitnya mencari narasumber yang respon dan penyebaran hoax yang masif di media sosial.

“Sulitnya menggali data karena keterbatasan ruang gerak menjadikan harus survei atau riset serta tetap berpegang dalam prosedur benar dalam peliputan pandemi sesuai protokol peliputan dan kode etik,” kata Anggi yang juga Pemimpin Redaksi Swara Mahardhika.

Dalam protokol peliputan di masa pandemi yang harus dilakukan adalah mempertimbangkan aspek keamanan, mengacu Kode Etik Jurnalistik, melindungi identitas anak yang jadi korban Covid-19, menaati prosedur keamanan meliput di rumah sakit atau tempat yang terpapar, koordinasi redaksi serta menggunakan masker di setiap kesempatan.

Sebelumnya, Ketua STIK-P Dr H Sakhyan Asmara MSP mengaku bersyukur atas terselenggaranya webinar yang mengangkat topik aktual dan banyak menyita perhatian publik. Apalagi, dua narasumber cukup kompeten dan kredibel serta menguasai topik yang dibahas.

“Kita tidak bisa beraktivitas normal karena pandemi Covid-19 serta kebijakan Stay at Home, Work From Home serta Social and Physical Distancing. Intinya, banyak sekali dampak Covid-19 ini,” kata Sakhyan.

“Kita memerlukan berita-berita ringan (soft news) di tengah pandemi ini, agar masyarakat bisa mendapatkan keseimbangan informasi dan rasa tenang. Bagaimana strategi liputannya, itulah yang dibahas oleh kedua narasumber,” tutur mantan Sesmenpora ini.

Hasil pantauan Waspada Online yang juga berpartisipasi dalam webinar tersebut, terdapat peserta dari berbagai perguruan tinggi di Medan, Palembang, DKI Jakarta, Mataram, NTB, Tangerang, Lampung, Bali, Banten, Makassar, Yogyakarta, Aceh, Surabaya, Samarinda, Maluku, Kalimantan Tengah hingga Malaysia. (wol/ari)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *